Selasa, 20 Oktober 2015

Grebek Wilis

Kamis, Tanggal 15 Oktober 2015
Hari ini aku curahkan perasaan yang sebelumnya pernah aku rasakan tahun lalu. Kini datang kembali untuk mengikuti setiap proses yang ada. Nah proses yang aku jalani adalah tradisi tahunan Grebek Suro tepatnya di desa Geger kecamatan Sendang kab Tulungagung. Peringatan Grebek Suro biasanya dimulai tanggal 1 muharram. Akan tetapi berbeda dengan tahun kemarin yang pelaksanaan tepat pada tanggal 1 muharram, tahun ini agak meleset dari perkiraan yaitu tanggal 2 muharram. Mungkin ada kesibukan dari masing-masing panitia atau ada alasan lain yang melatarbelakanginya. Kegiatan itu tetap memperingati grebeg suro tanggal 1 muharram 1437 Hijriah atau dalam jawa tanggal 1 suro 1449 Saka. Disitulah perjalanan petualanganku dimulai. Ada perbedaan sih sebenarnya nama tradisi tahun kemarin dengan tahun sekarang, perbedaannya terletak pada kata suro yang di rubah dengan kata wilis. Jadi untuk tahun ini nama yaang digunakan yaitu grebek wilis. Sebenarnya prosesi maupun maknanya sama dengan tradisi sebelumnya.
Perjalananku aku mulai dari kampus tempatku belajar, namanya tak asing di kalangan masyarakat Tulungagung yaitu Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Tulungagung. Ada tiga waktu pemberagkatan meliputi: pagi, sore, dan malam. Aku sendiri mengikuti pemberangkatan waktu sore karena banyak peminatnya dan ada kesibukkan yang tidak bisa di tinggal. Teman-teman sudah berkumpul di tempat biasa nongkrong ataupun tempat diskusi di gazebo. Tetapi ada pekerjaan bagiku sebelum berangkat, dengan mengikuti acara UNCRIT (ulasan cerita) untuk pembuatan majalah. Maklum, ikutan Unit Kegiatan Mahasiswa LPM Dimensi, jadi ya berbagi waktu biar semuanya bisa terikuti. Sialnya, kejadian yang tak aku duga menimpaku ketika aku menikuti uncrit, ternyata teman-teman yang berkumpul di gazebo telah meninggalkan aku (berangkat duluan). Tetapi keinginanku utuk berangkat ke Sendang tidak pupus. Untung saja ada teman perempuan, agak pemalu sih makanya gak tak sebutin namanya tetapi sebut saja Dian Kurnia Sari (biasa di panggil mak). Yang membuatku penasaran kenapa kok bisa dipanggil emak sih, aku dapat suatu inti sari dari berpikirku tentang mbak Dian. Mungkin alasan dipanggil emak karena mukanya kayak ibuk-ibuk. Eh keceplosan deh. Dia juga ikut UKM LPM Dimensi sama sepertiku. Aku dan mbak Dian berangkat bebarengan tetapi membawa montor sendiri-sendiri.
Petualangan seru selanjutnya terjadi ketika diperjalanan mbak Dian yang katanya mau ngajak berangkat bareng malah hilang meninggalkanku. Aduh-aduh, pikiranku cemas tanpa bisa dikontrol walaupun sudah pernah kesana tetapi kepikunanku mulai menjadi kebiasaan. Sabar adalah cara terbaik untuk menghadapi segala cobaan ketika usaha sudah dilakukan. Hanya itu mugkin dalam benak pikiranku, aku langsung membuat keputusan  untuk tetap melanjutkan perjalanan walaupun kondisiku saat ini bingung (karena gak tahu tempat). Agak lama sih perjalanan yang aku tempuh, hingga wasuk wilayah kecamatan Sendang. Adzan magrib sudah berkumandang diseluruh penjuru wilayah Tulungagung, aku hentikan perjalananku sejenak untuk beristirahat di sebuah masjid. Hawa dingin serasa menusuk tulang, airpun telah mengalir ke bagian-bagian tubuhku yang menjadi rukun-rukun wudhu. Setelah selesai wudhu, aku lanjutkan kegiatan yang menjadi kewajibanku sebagai umat islam yaitu solat.
Perjalanan aku mulai kembali dengan menyusuri daerah Sendang yang medannya lumayan rumit dan jalan berkelok kelok dan dekat jurang. Karena gak tahu jalan instingku mulai aku pakai untuk menentukan arah. Di saat ada tiga pertigaan pikiranku bilang terus aja lah, dan itu beneran kulakukan hingga akhirnya sampai di wisata argo wilis. Suatu tempat yang asing bagiku, akupun berbalik arah untuk kembali ke jalur yang ssuai dengan suasana dalam hati menyesal tapi bahagia. Begitulah pokoknya, sangat sulit di ungkapkan dengan kata-kata. Sesampainya aku di pertigaan tempatku terkecoh tadi, tak disangka dan tak ku duga teman-temanku sedang istirahat di situ. Padahal jarak berangkat kami tadi lumayan lama lo. Perjalanan yang sungguh lama menurutku, tenaga mesin motorku terkuras pastinya. Akhirnya aku dan teman-temanku sampai juga di tempat yang dijadikan acara grebek wilis. Tapi acaranya masih hari jumatnya (besoknya). Malam itu acaranya masih persiapan untuk acara besok. Hampir kelupaan kalau aku belum melaksanakan solat isya’. Kulakukan itu, kemudian berkumpul bersama teman-teman dengan ditemani api unggun yang membuatku sedikit hangat. Dinginnya hawa di lereng pegunungan wilis membuatku sulit untuk merenggangkan badan yang serasa capek dengan aktivitas perjalananku.

Perjalananku

Jum’at, Tangal 11 Oktober 2015
Hari ini kujalani hari-hari seperti biasa, pancaran sinar matahari mulai menampakkan sinarnya untuk memperoleh eksistensinya. Kehidupan yang berawal dari sinarnya, membuat orang sangat mengharapkan kehadirannya. Aktivitasku aku lalui dipondok (tidak usah dikasih tahu pondoknya mana) tetapi sebut saja Manba’ul Ulum. Lokasinya berada di desa Tunggul Sari, kecamatan Kedungwaru. Tepatnya sebelah timur perumahan bumi mas. Berhubung hari minggu, setelah ngaji kitab (kata orang sih tolabul ilmi) pikiranku mulai menemukan dimana titik tenang itu, aku dapat beristirahat (istilah lain yang mudah dipahami yaitu tidur). Aura positifku muncul ketika kedua kelopak mataku pelahan-lahan mulai terbuka. Kulihat dunia yang sudah aku lihat sebelumnya (sebelum tidur) dengan setelah bangun, dan ada hal yang membedakan disitu yaitu pagi dan siang. Tak berasa lama juga ya aku tidur. Biasa anak pondok an identik dengan tidur kalau gak ada kegiatan ataupun aktivitas.
Rasa ingin tahuku mulai muncul kembali ketika mengingat perkataan temanku tentang Festival Bonorowo Menulis yang diadakan di UNITA (Universitas Tulungagung) selama 3 hari berturut-turut mulai dari hari jum’at sampai hari minggu. Aku teringat hanya hari minggu itu sebab yang menjadi tujuanku adalah adanya kegiatan tumpeng buku (sesuatu yang masih asing ditelingaku). Setelah aku telusuri ternyata ada juga tumpeng buku itu. Seperti halnya tumpeng yang ada dimasyarakat, perbedaannya terletak pada media yang digunakan, bukan nasi melainkan buku yang ditata seperti gunungan. Ketertarikanku awal mulanya pada tumpeng buku yang nanti prosesinya dengan rebutan buku. Aku berangkat kesana pukul 14.10 WIB (jam 2 sore) dengan kuda besi bermesin (montor) dengan tancapan gas sebagai titik pengatur kecepatan. Sebenarnya mau berangkat bersama temanku, alasan yang membuatku berangkat sendiri ketika temanku yang bernama Seli Muna Ardiani itu bingung (mulek) dengan jadwal keberangkatan. Sesampainya disana rasa heranku mulai muncul, kok ada ular dengan berbagai ukuran dan  berbagai jenis di Festival Bonorowo Menulis. Walaupun aku sendiri takut dengan ular, tak menggoyahkan keinginanku untuk bertanya lebih lanjut tentang adanya ular ditempat itu. Usut punya usut ternyata ada komunitasnya juga, namanya Tulungagung Exotic animals. Ketakutanku yang berlebihan terhadap ular, membuatku semakin penasaran.
Aku di situ bertemu teman-teman mahasiswa IAIN Tulungagung yang sedang asik memegang ular. Rasa penasaran itulah yang membuatku semakin berani untuk memegang ular. Disisi lain yang membuat rasa keinginanku untuk memegang ular diacara itu tidak lain ingin memajang atau menyebarkan lewat medsos (media sosial), istilah kerennya foto profil (di facebook), DP (di BBM), dan lain sebagainya. Mumpung masih muda dinikmati aja masa-masa yang sedang asik-asiknya yang biasanya dimulai dengaan muncul keinginan. Temanku yang berada dekat dengan tempaku berdiri, aku mintai tolong untuk sekedar mengarahkan titik fokus kamera ke arahku. Beberapa kali jepretan kamera mengenaiku dengan ular yang aku pegang. Kalau enggak salah, ada 15 foto dengan gaya berbeda yang membuatku semakin percaya diri untuk mengunggah di jejaring sosial. Apalagi ularnya ya, lebih senang lagi mungkin karena bisa eksis juga didunia maya.
Acara Festival Bonorowo Menulis juga dimeriahkan grub teater dari MAN 2 Tulungagung. Menunggu selama 2 jam lebih membuatku bingung, sampai kapan lagi acara tumpengan buku ini dilaksanakan. Acara selanjutnya yang hampir akhir menurutku, pembacaan  nama-nama pemenang lomba tulisan meliputi artikel, geguritan, puisi, cerpen. Rasa malas mulai menghantuiku, aku lawan rasa malas itu dengan melakukan kewajibanku sebagai seorang muslim dengan melaksanakan sholat ashar terlebih dahulu sampai selesai pembacaan nama-nama pemenang. Tak lama setelah solat ashar, orang-orang muai memadati tumpeng buku yang berada di depan panggung. Aku langkahkan kakiku di garda paling depan, akan tetapi teman-teman perepuan tidak mau kalah. Rasa ibaku dan rasa kekalahanku muncul dengan sendirinya, biarlah perempuan di depan, takut gak kebagian nanti. Aku konsenkan arah kedua mataku untuk melihat buku yang ingin aku ambil.

Ketua pelaksana memberikan  semangat moral untuk membangkitkan semangat menulis bagi semua kalangan yang menhadiri acara tersebut. Ada tiga hitungan untuk persiapan rebutan, eh baru hitungan ketiga, pengunjug tidak menghiraukan hitungan dari ketua pelaksana sehingga terjadi rebutan yang tidak bisa dikontrol. Aku yang berada di belakang perempuan mulai menerobos, tapi apa daya lah, seakan menembus gerbang yang sangat kuat. Aku merasa tidak enak ketika ada anak kecil yang menangis karena efek tertindih pengujung lain yang berebut buku. Ah dengan adanya rebutan itu aku malah hilang konsentrasiku untuk mendapatkan buku.. Harapanku untuk mendapatkan buku yang aku inginkan sejak tadi sia-sia sudah. Oh iya lupa nih, bukunya itu tertutup selembar kertas koran hingga semua tertutupi tanpa ada celah untuk mengetahuinya. akhirnya tinggal comot buku yag ada aja deh. Eh dapet buku dengan judul mencegah dan memberantas korupsi karya Djatmiko Soemodiharjo. Tetapi alhamdulilah dapet buku gratis, yang penting kesannya dalam mendapatkan buku itu. Dan acarapun ditutup waktu itu juga dan perjalanku pulang telah menunggu. Itulah pengalaman berkesanku untuk yang menjadi guru yang terbaik. Seperti kata pepatah pengalaman adalah guru yang terbaik.

Minggu, 11 Oktober 2015

Pengalaman Perkuliahan

Tanggal 09 oktober 2015

Masih bimbang dalam keraguan tentang mata kuliah metode penelitian kuantitatif yang diampu oleh pak Ngainun Naim. Pada pertemuan kali ini, bab yang ingin di bahas tentang Alur Penelitian dan Ragam Penelitian. Aku konsenkan pikiranku pada papan tulis yang ada didepanku, menerima dan menyaring segala perkataan maupun tulisan dari pak Naim. Coretan tinta mulai tercecer dalam papan tulis yang putih bersih, disitulah pak Naim menuliskan kata “masalah”. Aku mulai berpikir tentang masalah. Apa sih sebernarnya masalah itu ?. Pasti itu hal pertama yang harus dijawab ketika kita mempertanyakan masalah.
Masalah adalah segala sesuatu dalam rasio (bersifat abstrak) yang tidak sesuai dengan kenyataan (ada persilangan antara ideal dengan kenyataan). Pak naim berkata “jangan menggunakan semboyan penggadaian (mengatasi masalah tanpa masalah) ataupun Indonesia Lawak Klub/ILK (mengatasi masalah tanpa solusi)”. Sudah sangat jelas itu tidak menyelesaikan masalah apapun, akan tetapi jangan diambil serius karena pak Naim sendiri juga bercanda. Penelitianpun pasti diawali dengan permasalahan yang membutuhkan jawaban untuk mengatasi setiap permasalahan. Alur yang ada untuk memberikan pemahaman tentang penelitian itu berawal dari masalah. Untuk mengetahui masalah pasti membutuhkan teori pendukung untuk memberikan gambaran hal-hal apa saja yang dapat diteliti. Selanjutnya dengan adanya rumusan masalah, data yang sudah dicari dikumpulkan dan dianalisis lagi untuk mengerucutkan (sesuatu yang tidak sesuai teori pendukung yang dijadikan landasan disingkirkan/didiskualifikasi). Puncak dari penelitian ialah kesimpulan yang merupakan jawaban dari permasalahan. Itu hasil final yang dicapai peneliti.
Ragam penelitian itu banyak sekali. Hal ini bisa ditinjau dari Tujuan, pendekatan, bidang ilmu, tempatnya, hadirnya variabel. Lebih lanjut akan kita bahas secara lebih rinci:
1.    Penelitian ditinjau dari tujuan
Ada tiga macam penelitian ditinjau dari tujuan, meliputi: penelitian ekspoloratif (Penelitian yang menggali secara luas tentang sebab-sebab atau hal-hal yang mempengaruhi sesuatu), Pengembangan ( penelitian yang mengadakan percobaan dan penyempurnaan), veritifikatif (penelitian dengan mencoba menguji kebenaran penelitian lama yang telah dilakukan sebelumnya), kebijakan (penelitian yang dilakukan lembaga pemerintahan)
2.    Penelitian ditijau dari pendekatan
Ada 2 macam penelitian ditinjau dari pendekatan meliputi: Longitudinal/bujur (penelitian yang menggunakan subjek yang sama dalam jangka waktu yang lama dan berkelanjutan), Ross-sectional/silang (penelitian yang tidak menggunakan subjek yag sama dalam jangka waktu yang pendek dan dilakukan serempak pada waktu itu saja).
3.    Penelitian Ditinjau dari bidang ilmu
Beragamnya ilmu pengetahuan juga membuat beragamnya penelitian yang disajikan. Terkadang itulah yang membuat seorang peneliti untuk bisa terkonsentasi pada bidang yang di inginkan.
4.    Penelitian Ditinjau dari tempatnya
Ada tempat-tempat yang dijadikan penelitian oleh seorang peneliti diantaranya: laboratorium (ruangan yang digunakan untuk eksperimen), kepustakaan (ruangan yang digunakan untuk kajian perpustakaan/ penelitian buku), lapangan (tempat penelitian yang terjun langsung di masyarakat).
5.    Penelitian Ditinjau dari hadirnya variabel
Penelitian pasti memiliki obyek kajian yang bisa bervariasi karena dengan adanya perbedaan itu penelitian akan menimbulkan suatu kesimpulan untuk mendapatkan suatu jawaban dari permasalahan.
Jam yang diampu pak Naim mulai terkikis dengan materi-materi yang disampaikan. Tiba saatnya refleksi (mengulang kembali materi) yang di jabarkan oleh pak Naim tadi. Rasa deg-deg an mulai merasuk, jantungku mulai berdebar ketika pak Naim membacakan nama yang ingin maju kedepaan untuk merefleksikan hasil yang dapat dipahami. Apalagi di saat itu aku sangat gugup sekali, pikiranku terbawa kemana-mana tanpa dapat dikontrol. Sedikit lega ketika yang dipanggil itu bukan aku melainkan salah satu temanku bernama Seli Muna Ardiani  (ketua kelas). Syukur, hanya itulah yang dapat aku ucapkan ketika bukan aku yang maju. Tetapi rasa kecewa muncul karena rasa ketakutan dan grogi yang melandaku. Sampai  kapan itu akan berakhir kalau aku sendiri tidak bisa melakukan pemberontakan dan merubahnya. Mata kuliah penelitian kualitatif itu berakhir dengan tugas yang diberikan pak Naim dengan membaca materi selanjutnya metode penelitian kuantitatif dan kualitatif.


Pengalaman Perkuliahan

Tanggal 02 Oktober 2015

Aku jalani setiap perkuliahan yang  menjadi suatu kewajiban bagiku. Tak kusangka rasa kebingungan tertancap dalam pikiranku tentang mata kuliah metode penelitian kuantitatif . Mata kuliah yang asing bagiku, tetapi juga penting bagiku karena menjadi salah satu wahana untuk mengembangkan penelitian. Setahu saya, penelitian itu ada dua macam metode diantaranya: metode penelitian kualitatif (yang saya ceritakan diatas) dan metode penelitian kualitatif (masih menjadi mata kuliah semester depan). Berbicara soal metode penelitian kuantitatif yang dibicarakan pak Ngainun Naim pada petemuan kali itu, masih sekedar pendahuluan untuk memperkenalkan tentang beberapa hal antara lain: orang yang bisa meneliti (melakukan penelitian), cara penelitian, obyek yang di teliti.
Penelitian tidak luput dari yang namanya sejarah. Dahulu penelitian itu identik dengan seorang ilmuan (seseorang yang meneliti di laboratorium). Dengan demikian, penelitian adalah monopoli para ahli ilmuan. Akan tetapi, itu tidak sepenuhnya benar karena penelitian itu tidak hanya pada satu bidang ilmu saja melainkan pada semua bidang ilmu. Sekarang, pelajar banyak beranggapan bahwa yang wajib meneliti itu seorang dosen, guru, pelajar atau orang penting lainnya.  Mereka belum menyadari bahwa siapun (termasuk mahasiswa) itu bisa melakukan penelitian karena dengan adanya penelitian, ilmu itu dapat dikembangkan secara ilmiah. Seseorang yang ingin meningkatkan segala sesuatu itu sudah bisa dianggap melakukan penilitian. Hal yang membedakannya terletak pada sistematis (tersusun sesuai prosedur) ataupun tidak sistematis.
Cara penelitian ada beberapa macam diantaranya:
1.    Penelitian Diskriptif (Discription Research)
Penelitian yang dimaksudkan untuk mendiskripsikan (memaparkan) keadaan tanpa ada pengembangan ataupun perubahan (manipulasi) data. Penelitian Diskriptif terbagi menjadi lima jenis diantaranya: Penelitian diskriptif murni (Penelitian yang memaparkan pada kancah keadaan wilayah), penelitian komparasi (penelitian yang menggambarkan perbedaan diantara dua tempat/wilayah), penelitian korelasi (Penelitian yang menghubungkan kedua variabel (obyek)), Penelitian penelusuran (Penelitian yang menelusuri kinerja masa lalu dan dampaknya pada masa sekarang), penelitian evaluasi.
2.    Penelitian Operational
Penelitian yang dilakukan tanpa mengubah sistem pelaksanaannya. Akan tetapi khusus pada tindakan yang dilakukan.
3.    Penelitian Eksperimen
Penelitian yang dilakukan untuk menciptakan sesuatu yang sifatnya percobaan dan baru, dalam arti lain menimbulkan suatu kejadian yang sebelumnya tidak ada. Ada tiga cara untuk menyisihkan  faktor pengganggu dalam eksperimen diantaranya: disisihkan secara fisik dalam bentuk laboratorium, disisihkan secara selektif, disisihkan secara manipulasi selektif.
Ruang lingkup penelitian pada pendidikan adalah segala sesuatu yang berhubugan dengan pendidikan baik itu di sekolah, di lingkungan rumah ataupun di tempat yang lain.
Perkuliah yang diampu oleh pak Naim diakhiri dengan refleksi (pengulangan kembali) tentang materi yang telah diajarkan. Ada dua oarng perwakilan yang ditunjuk untuk memaparkan hasil penguasaan materi yaitu  Nur Azizah binti Muhammad Yaqub dan Imam Safi’i (saya sendiri). Pengalaman pertama ini saya rasakan dengan ketegangan karena belum terlatihnya berbicara dengan materi yang baru di dapat secara langsung. Tetapi ada baiknya juga, karena dengan metode ini mahasiswa dapat mengingat apa yang didapat seketika itu.