Kamis, Tanggal
15 Oktober 2015
Hari ini aku curahkan perasaan yang sebelumnya pernah aku rasakan tahun
lalu. Kini datang kembali untuk mengikuti setiap proses yang ada. Nah proses
yang aku jalani adalah tradisi tahunan Grebek Suro tepatnya di desa Geger kecamatan
Sendang kab Tulungagung. Peringatan Grebek Suro biasanya dimulai tanggal 1 muharram.
Akan tetapi berbeda dengan tahun kemarin yang pelaksanaan tepat pada tanggal 1
muharram, tahun ini agak meleset dari perkiraan yaitu tanggal 2 muharram.
Mungkin ada kesibukan dari masing-masing panitia atau ada alasan lain yang
melatarbelakanginya. Kegiatan itu tetap memperingati grebeg suro tanggal 1
muharram 1437 Hijriah atau dalam jawa tanggal 1 suro 1449 Saka. Disitulah
perjalanan petualanganku dimulai. Ada perbedaan sih sebenarnya nama tradisi
tahun kemarin dengan tahun sekarang, perbedaannya terletak pada kata suro yang
di rubah dengan kata wilis. Jadi untuk tahun ini nama yaang digunakan yaitu
grebek wilis. Sebenarnya prosesi maupun maknanya sama dengan tradisi
sebelumnya.
Perjalananku aku mulai dari kampus tempatku belajar, namanya tak asing di kalangan
masyarakat Tulungagung yaitu Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Tulungagung.
Ada tiga waktu pemberagkatan meliputi: pagi, sore, dan malam. Aku sendiri
mengikuti pemberangkatan waktu sore karena banyak peminatnya dan ada kesibukkan
yang tidak bisa di tinggal. Teman-teman sudah berkumpul di tempat biasa
nongkrong ataupun tempat diskusi di gazebo. Tetapi ada pekerjaan bagiku sebelum
berangkat, dengan mengikuti acara UNCRIT (ulasan cerita) untuk pembuatan
majalah. Maklum, ikutan Unit Kegiatan Mahasiswa LPM Dimensi, jadi ya berbagi
waktu biar semuanya bisa terikuti. Sialnya, kejadian yang tak aku duga menimpaku
ketika aku menikuti uncrit, ternyata teman-teman yang berkumpul di gazebo telah
meninggalkan aku (berangkat duluan). Tetapi keinginanku utuk berangkat ke Sendang
tidak pupus. Untung saja ada teman perempuan, agak pemalu sih makanya gak tak
sebutin namanya tetapi sebut saja Dian Kurnia Sari (biasa di panggil mak). Yang
membuatku penasaran kenapa kok bisa dipanggil emak sih, aku dapat suatu inti
sari dari berpikirku tentang mbak Dian. Mungkin alasan dipanggil emak karena
mukanya kayak ibuk-ibuk. Eh keceplosan deh. Dia juga ikut UKM LPM Dimensi sama
sepertiku. Aku dan mbak Dian berangkat bebarengan tetapi membawa montor
sendiri-sendiri.
Petualangan seru selanjutnya terjadi ketika diperjalanan mbak Dian yang
katanya mau ngajak berangkat bareng malah hilang meninggalkanku. Aduh-aduh,
pikiranku cemas tanpa bisa dikontrol walaupun sudah pernah kesana tetapi
kepikunanku mulai menjadi kebiasaan. Sabar adalah cara terbaik untuk menghadapi
segala cobaan ketika usaha sudah dilakukan. Hanya itu mugkin dalam benak
pikiranku, aku langsung membuat keputusan
untuk tetap melanjutkan perjalanan walaupun kondisiku saat ini bingung
(karena gak tahu tempat). Agak lama sih perjalanan yang aku tempuh, hingga
wasuk wilayah kecamatan Sendang. Adzan magrib sudah berkumandang diseluruh
penjuru wilayah Tulungagung, aku hentikan perjalananku sejenak untuk
beristirahat di sebuah masjid. Hawa dingin serasa menusuk tulang, airpun telah
mengalir ke bagian-bagian tubuhku yang menjadi rukun-rukun wudhu. Setelah
selesai wudhu, aku lanjutkan kegiatan yang menjadi kewajibanku sebagai umat
islam yaitu solat.
Perjalanan aku mulai kembali dengan menyusuri daerah Sendang yang medannya
lumayan rumit dan jalan berkelok kelok dan dekat jurang. Karena gak tahu jalan
instingku mulai aku pakai untuk menentukan arah. Di saat ada tiga pertigaan
pikiranku bilang terus aja lah, dan itu beneran kulakukan hingga akhirnya
sampai di wisata argo wilis. Suatu tempat yang asing bagiku, akupun berbalik
arah untuk kembali ke jalur yang ssuai dengan suasana dalam hati menyesal tapi
bahagia. Begitulah pokoknya, sangat sulit di ungkapkan dengan kata-kata.
Sesampainya aku di pertigaan tempatku terkecoh tadi, tak disangka dan tak ku
duga teman-temanku sedang istirahat di situ. Padahal jarak berangkat kami tadi
lumayan lama lo. Perjalanan yang sungguh lama menurutku, tenaga mesin motorku
terkuras pastinya. Akhirnya aku dan teman-temanku sampai juga di tempat yang
dijadikan acara grebek wilis. Tapi acaranya masih hari jumatnya (besoknya).
Malam itu acaranya masih persiapan untuk acara besok. Hampir kelupaan kalau aku
belum melaksanakan solat isya’. Kulakukan itu, kemudian berkumpul bersama
teman-teman dengan ditemani api unggun yang membuatku sedikit hangat. Dinginnya
hawa di lereng pegunungan wilis membuatku sulit untuk merenggangkan badan yang
serasa capek dengan aktivitas perjalananku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar