Jum’at, Tangal 11 Oktober 2015
Hari ini kujalani hari-hari seperti biasa, pancaran sinar matahari mulai
menampakkan sinarnya untuk memperoleh eksistensinya. Kehidupan yang berawal
dari sinarnya, membuat orang sangat mengharapkan kehadirannya. Aktivitasku aku
lalui dipondok (tidak usah dikasih tahu pondoknya mana) tetapi sebut saja
Manba’ul Ulum. Lokasinya berada di desa Tunggul Sari, kecamatan Kedungwaru.
Tepatnya sebelah timur perumahan bumi mas. Berhubung hari minggu, setelah ngaji
kitab (kata orang sih tolabul ilmi) pikiranku mulai menemukan dimana
titik tenang itu, aku dapat beristirahat (istilah lain yang mudah dipahami
yaitu tidur). Aura positifku muncul ketika kedua kelopak mataku pelahan-lahan
mulai terbuka. Kulihat dunia yang sudah aku lihat sebelumnya (sebelum tidur)
dengan setelah bangun, dan ada hal yang membedakan disitu yaitu pagi dan siang.
Tak berasa lama juga ya aku tidur. Biasa anak pondok an identik dengan tidur
kalau gak ada kegiatan ataupun aktivitas.
Rasa ingin tahuku mulai muncul kembali ketika mengingat perkataan temanku tentang
Festival Bonorowo Menulis yang diadakan di UNITA (Universitas Tulungagung)
selama 3 hari berturut-turut mulai dari hari jum’at sampai hari minggu. Aku
teringat hanya hari minggu itu sebab yang menjadi tujuanku adalah adanya
kegiatan tumpeng buku (sesuatu yang masih asing ditelingaku). Setelah aku
telusuri ternyata ada juga tumpeng buku itu. Seperti halnya tumpeng yang ada
dimasyarakat, perbedaannya terletak pada media yang digunakan, bukan nasi melainkan
buku yang ditata seperti gunungan. Ketertarikanku awal mulanya pada tumpeng
buku yang nanti prosesinya dengan rebutan buku. Aku berangkat kesana pukul
14.10 WIB (jam 2 sore) dengan kuda besi bermesin (montor) dengan tancapan gas
sebagai titik pengatur kecepatan. Sebenarnya mau berangkat bersama temanku,
alasan yang membuatku berangkat sendiri ketika temanku yang bernama Seli Muna
Ardiani itu bingung (mulek) dengan jadwal keberangkatan. Sesampainya disana
rasa heranku mulai muncul, kok ada ular dengan berbagai ukuran dan berbagai jenis di Festival Bonorowo Menulis.
Walaupun aku sendiri takut dengan ular, tak menggoyahkan keinginanku untuk
bertanya lebih lanjut tentang adanya ular ditempat itu. Usut punya usut
ternyata ada komunitasnya juga, namanya Tulungagung Exotic animals.
Ketakutanku yang berlebihan terhadap ular, membuatku semakin penasaran.
Aku di situ bertemu teman-teman mahasiswa IAIN Tulungagung yang sedang asik
memegang ular. Rasa penasaran itulah yang membuatku semakin berani untuk
memegang ular. Disisi lain yang membuat rasa keinginanku untuk memegang ular
diacara itu tidak lain ingin memajang atau menyebarkan lewat medsos (media
sosial), istilah kerennya foto profil (di facebook), DP (di BBM), dan lain
sebagainya. Mumpung masih muda dinikmati aja masa-masa yang sedang asik-asiknya
yang biasanya dimulai dengaan muncul keinginan. Temanku yang berada dekat
dengan tempaku berdiri, aku mintai tolong untuk sekedar mengarahkan titik fokus
kamera ke arahku. Beberapa kali jepretan kamera mengenaiku dengan ular yang aku
pegang. Kalau enggak salah, ada 15 foto dengan gaya berbeda yang membuatku
semakin percaya diri untuk mengunggah di jejaring sosial. Apalagi ularnya ya,
lebih senang lagi mungkin karena bisa eksis juga didunia maya.
Acara Festival Bonorowo Menulis juga dimeriahkan grub teater dari MAN 2 Tulungagung.
Menunggu selama 2 jam lebih membuatku bingung, sampai kapan lagi acara
tumpengan buku ini dilaksanakan. Acara selanjutnya yang hampir akhir menurutku,
pembacaan nama-nama pemenang lomba
tulisan meliputi artikel, geguritan, puisi, cerpen. Rasa malas mulai
menghantuiku, aku lawan rasa malas itu dengan melakukan kewajibanku sebagai
seorang muslim dengan melaksanakan sholat ashar terlebih dahulu sampai selesai
pembacaan nama-nama pemenang. Tak lama setelah solat ashar, orang-orang muai
memadati tumpeng buku yang berada di depan panggung. Aku langkahkan kakiku di
garda paling depan, akan tetapi teman-teman perepuan tidak mau kalah. Rasa
ibaku dan rasa kekalahanku muncul dengan sendirinya, biarlah perempuan di depan,
takut gak kebagian nanti. Aku konsenkan arah kedua mataku untuk melihat buku
yang ingin aku ambil.
Ketua pelaksana memberikan semangat
moral untuk membangkitkan semangat menulis bagi semua kalangan yang menhadiri
acara tersebut. Ada tiga hitungan untuk persiapan rebutan, eh baru hitungan
ketiga, pengunjug tidak menghiraukan hitungan dari ketua pelaksana sehingga terjadi
rebutan yang tidak bisa dikontrol. Aku yang berada di belakang perempuan mulai
menerobos, tapi apa daya lah, seakan menembus gerbang yang sangat kuat. Aku
merasa tidak enak ketika ada anak kecil yang menangis karena efek tertindih
pengujung lain yang berebut buku. Ah dengan adanya rebutan itu aku malah hilang
konsentrasiku untuk mendapatkan buku.. Harapanku untuk mendapatkan buku yang
aku inginkan sejak tadi sia-sia sudah. Oh iya lupa nih, bukunya itu tertutup
selembar kertas koran hingga semua tertutupi tanpa ada celah untuk mengetahuinya.
akhirnya tinggal comot buku yag ada aja deh. Eh dapet buku dengan judul mencegah
dan memberantas korupsi karya Djatmiko Soemodiharjo. Tetapi alhamdulilah dapet
buku gratis, yang penting kesannya dalam mendapatkan buku itu. Dan acarapun
ditutup waktu itu juga dan perjalanku pulang telah menunggu. Itulah pengalaman
berkesanku untuk yang menjadi guru yang terbaik. Seperti kata pepatah
pengalaman adalah guru yang terbaik.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar