Selasa, 20 Oktober 2015

Perjalananku

Jum’at, Tangal 11 Oktober 2015
Hari ini kujalani hari-hari seperti biasa, pancaran sinar matahari mulai menampakkan sinarnya untuk memperoleh eksistensinya. Kehidupan yang berawal dari sinarnya, membuat orang sangat mengharapkan kehadirannya. Aktivitasku aku lalui dipondok (tidak usah dikasih tahu pondoknya mana) tetapi sebut saja Manba’ul Ulum. Lokasinya berada di desa Tunggul Sari, kecamatan Kedungwaru. Tepatnya sebelah timur perumahan bumi mas. Berhubung hari minggu, setelah ngaji kitab (kata orang sih tolabul ilmi) pikiranku mulai menemukan dimana titik tenang itu, aku dapat beristirahat (istilah lain yang mudah dipahami yaitu tidur). Aura positifku muncul ketika kedua kelopak mataku pelahan-lahan mulai terbuka. Kulihat dunia yang sudah aku lihat sebelumnya (sebelum tidur) dengan setelah bangun, dan ada hal yang membedakan disitu yaitu pagi dan siang. Tak berasa lama juga ya aku tidur. Biasa anak pondok an identik dengan tidur kalau gak ada kegiatan ataupun aktivitas.
Rasa ingin tahuku mulai muncul kembali ketika mengingat perkataan temanku tentang Festival Bonorowo Menulis yang diadakan di UNITA (Universitas Tulungagung) selama 3 hari berturut-turut mulai dari hari jum’at sampai hari minggu. Aku teringat hanya hari minggu itu sebab yang menjadi tujuanku adalah adanya kegiatan tumpeng buku (sesuatu yang masih asing ditelingaku). Setelah aku telusuri ternyata ada juga tumpeng buku itu. Seperti halnya tumpeng yang ada dimasyarakat, perbedaannya terletak pada media yang digunakan, bukan nasi melainkan buku yang ditata seperti gunungan. Ketertarikanku awal mulanya pada tumpeng buku yang nanti prosesinya dengan rebutan buku. Aku berangkat kesana pukul 14.10 WIB (jam 2 sore) dengan kuda besi bermesin (montor) dengan tancapan gas sebagai titik pengatur kecepatan. Sebenarnya mau berangkat bersama temanku, alasan yang membuatku berangkat sendiri ketika temanku yang bernama Seli Muna Ardiani itu bingung (mulek) dengan jadwal keberangkatan. Sesampainya disana rasa heranku mulai muncul, kok ada ular dengan berbagai ukuran dan  berbagai jenis di Festival Bonorowo Menulis. Walaupun aku sendiri takut dengan ular, tak menggoyahkan keinginanku untuk bertanya lebih lanjut tentang adanya ular ditempat itu. Usut punya usut ternyata ada komunitasnya juga, namanya Tulungagung Exotic animals. Ketakutanku yang berlebihan terhadap ular, membuatku semakin penasaran.
Aku di situ bertemu teman-teman mahasiswa IAIN Tulungagung yang sedang asik memegang ular. Rasa penasaran itulah yang membuatku semakin berani untuk memegang ular. Disisi lain yang membuat rasa keinginanku untuk memegang ular diacara itu tidak lain ingin memajang atau menyebarkan lewat medsos (media sosial), istilah kerennya foto profil (di facebook), DP (di BBM), dan lain sebagainya. Mumpung masih muda dinikmati aja masa-masa yang sedang asik-asiknya yang biasanya dimulai dengaan muncul keinginan. Temanku yang berada dekat dengan tempaku berdiri, aku mintai tolong untuk sekedar mengarahkan titik fokus kamera ke arahku. Beberapa kali jepretan kamera mengenaiku dengan ular yang aku pegang. Kalau enggak salah, ada 15 foto dengan gaya berbeda yang membuatku semakin percaya diri untuk mengunggah di jejaring sosial. Apalagi ularnya ya, lebih senang lagi mungkin karena bisa eksis juga didunia maya.
Acara Festival Bonorowo Menulis juga dimeriahkan grub teater dari MAN 2 Tulungagung. Menunggu selama 2 jam lebih membuatku bingung, sampai kapan lagi acara tumpengan buku ini dilaksanakan. Acara selanjutnya yang hampir akhir menurutku, pembacaan  nama-nama pemenang lomba tulisan meliputi artikel, geguritan, puisi, cerpen. Rasa malas mulai menghantuiku, aku lawan rasa malas itu dengan melakukan kewajibanku sebagai seorang muslim dengan melaksanakan sholat ashar terlebih dahulu sampai selesai pembacaan nama-nama pemenang. Tak lama setelah solat ashar, orang-orang muai memadati tumpeng buku yang berada di depan panggung. Aku langkahkan kakiku di garda paling depan, akan tetapi teman-teman perepuan tidak mau kalah. Rasa ibaku dan rasa kekalahanku muncul dengan sendirinya, biarlah perempuan di depan, takut gak kebagian nanti. Aku konsenkan arah kedua mataku untuk melihat buku yang ingin aku ambil.

Ketua pelaksana memberikan  semangat moral untuk membangkitkan semangat menulis bagi semua kalangan yang menhadiri acara tersebut. Ada tiga hitungan untuk persiapan rebutan, eh baru hitungan ketiga, pengunjug tidak menghiraukan hitungan dari ketua pelaksana sehingga terjadi rebutan yang tidak bisa dikontrol. Aku yang berada di belakang perempuan mulai menerobos, tapi apa daya lah, seakan menembus gerbang yang sangat kuat. Aku merasa tidak enak ketika ada anak kecil yang menangis karena efek tertindih pengujung lain yang berebut buku. Ah dengan adanya rebutan itu aku malah hilang konsentrasiku untuk mendapatkan buku.. Harapanku untuk mendapatkan buku yang aku inginkan sejak tadi sia-sia sudah. Oh iya lupa nih, bukunya itu tertutup selembar kertas koran hingga semua tertutupi tanpa ada celah untuk mengetahuinya. akhirnya tinggal comot buku yag ada aja deh. Eh dapet buku dengan judul mencegah dan memberantas korupsi karya Djatmiko Soemodiharjo. Tetapi alhamdulilah dapet buku gratis, yang penting kesannya dalam mendapatkan buku itu. Dan acarapun ditutup waktu itu juga dan perjalanku pulang telah menunggu. Itulah pengalaman berkesanku untuk yang menjadi guru yang terbaik. Seperti kata pepatah pengalaman adalah guru yang terbaik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar